Operasi Modifikasi Cuaca di Kabupaten Berau Dilaksanakan, BMKG Prediksi Potensi Awan Hujan Capai 98 Persen
Persiapan Tim gabungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Berau, menggunakan pesawat Cessna Grand Caravan 208B, yang mulai digelar pada Senin (24/8/2026). foto : sep/fn
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Harapan akan turunnya hujan mulai terbuka
dari langit. Pertumbuhan awan hujan mulai terpantau signifikan. Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi pertumbuhan
awan hujan di wilayah Berau mencapai 90 hingga 98 persen selama lima hari ke
depan.
Kondisi tersebut
menjadi peluang penting bagi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang kini digelar
untuk membantu mempercepat turunnya hujan, sekaligus mendukung penanganan
karhutla dan mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
PMG Muda Kedeputian
Modifikasi Cuaca BMKG, Hari Saputro, mengatakan hasil pemantauan sejak pagi
hingga sore menunjukkan kondisi atmosfer Berau cukup mendukung.
“Hari ini potensinya
cukup baik, pertumbuhan awannya cukup banyak. Kesesuaian prediksi kita berada
di rentang 90-98 persen,” ujar Hari saat diwawancarai , Senin (24/8/2026).
Menurut Hari, kondisi
tersebut memberikan peluang bagi tim untuk memaksimalkan pelaksanaan kegiatan selama
beberapa hari ke depan. Namun, ia menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca
tidak berarti menciptakan awan dari langit yang cerah.
Prinsip utama OMC
adalah memanfaatkan awan yang telah terbentuk secara alami. Tim kemudian
mencari awan yang sedang tumbuh, berkembang, dan memiliki massa uap air yang
cukup. Awan yang memenuhi kriteria tersebut selanjutnya menjadi sasaran
penyemaian.
“Kita membutuhkan
awan yang tumbuh berkembang dan punya massa uap air. Awan matang itu kemudian
kita semai agar dorongan jatuhnya air menjadi lebih cepat,” jelas Hari.
Artinya, keberhasilan
OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Tanpa awan yang sesuai, penyemaian
tidak dapat dilakukan secara optimal. Karena itu, tim tidak sekadar menunggu
hujan turun. Mereka harus terus memantau perkembangan awan untuk menentukan
kapan waktu yang tepat melakukan penyemaian.
Dalam proses
penyemaian, BMKG menggunakan bahan semai khusus dengan tingkat kehalusan sangat
tinggi. Ukuran partikelnya dapat mencapai sekitar 0,1 mikron. Bahan tersebut
berbeda dengan garam dapur biasa. Material semai digunakan untuk membantu
proses pengikatan uap air di dalam awan sehingga proses terbentuknya butiran
air dapat dipercepat.
Meski demikian,
penyemaian bukan jaminan mutlak bahwa hujan akan turun. Hari menyebut peluang
hujan setelah proses penyemaian berada pada kisaran 30 hingga 50 persen.
Besarnya peluang tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi serta volume awan
yang menjadi sasaran.
“Jika kondisi awan
ideal, estimasi rentang waktu dari proses penyemaian hingga turun hujan
berkisar antara dua sampai tiga jam,” katanya.
Ia menjelaskan lebih
lanjut, bahwa awan yang tepat menjadi sangat berharga dalam pelaksanaan OMC.
Ketika awan potensial muncul, tim harus bergerak cepat sebelum awan tersebut
berkembang ke arah yang tidak lagi memenuhi kriteria penyemaian.
Sementara itu, Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi menggelar OMC di Kabupaten Berau
atas permintaan Pemerintah Kabupaten Berau. Operasi tersebut dirancang
berlangsung selama lima hari dengan tujuan memanfaatkan potensi awan hujan di
Berau dan wilayah sekitarnya.
Analis Kebencanaan
Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB, Tono Sumarsono,
mengatakan kehadiran tim pusat merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintah
daerah dalam menghadapi karhutla.
“Operasi ini didasari
permintaan Pemkab Berau kepada Kepala BNPB dan BRIN. Kami dari pusat hadir
untuk men-support daerah karena penanganan bencana karhutla harus dilakukan
bersama-sama,” ujar Tono saat ditemui di Posko operasional. Untuk mendukung
operasi, BNPB menyiagakan satu unit pesawat Cessna Grand Caravan 208B.
Pesawat tersebut
sebelumnya digunakan untuk menjalankan misi serupa di Kalimantan Selatan
sebelum kemudian dikerahkan ke Berau. Selain armada udara, tim juga menyiapkan
10 ton bahan semai yang dikirim dari Jakarta melalui Balikpapan.
Dalam satu kali
penerbangan atau sortie, pesawat mampu membawa sekitar satu ton bahan semai.
Jika kondisi awan mendukung, penerbangan dapat dilakukan beberapa kali dalam
sehari. Bahkan, BNPB siap mengoptimalkan hingga empat sampai lima sortie per
hari.
Kecepatan menjadi
salah satu faktor penting dalam operasi tersebut. Tim tidak dapat menentukan
sendiri kapan pesawat akan terbang. Keputusan penerbangan bergantung pada hasil
pemantauan radar dan analisis meteorologi yang menunjukkan keberadaan awan potensial
untuk disemai. Begitu peluang tersebut ditemukan, tim di lapangan dituntut
bergerak cepat.
“Kita tidak ada
batasan maksimal sortie. Begitu radar dan analisis meteorologi menunjukkan
adanya potensi awan semai, maksimal dalam 30 menit proses loading selesai dan
pesawat langsung lepas landas,” tegas Tono.
Dengan pola tersebut,
pesawat dapat segera menuju lokasi awan yang dinilai memenuhi kriteria sebelum
kesempatan tersebut berlalu.
OMC di Berau
melibatkan tim gabungan lintas sektor. Di dalamnya terdapat BNPB, BRIN, BMKG,
BPBD, pihak bandara hingga TNI AU. Masing-masing memiliki peran dalam
memastikan operasi berjalan sesuai kondisi di lapangan.
Pemantauan awan
dilakukan secara intensif sejak pagi hingga malam. Perkembangan awan dianalisis
untuk menentukan lokasi, waktu, serta kemungkinan penyemaian. Setiap awan
potensial menjadi peluang untuk mendapatkan hujan.
Namun, operasi
tersebut tetap tidak bisa sepenuhnya mengendalikan faktor alam. Prediksi
pertumbuhan awan yang mencapai 90-98 persen tidak berarti hujan pasti turun
setelah penyemaian.
Kondisi awan,
kandungan uap air, volume awan, serta perkembangan atmosfer tetap menjadi
faktor penentu. BNPB berharap OMC dapat membantu mempercepat turunnya hujan di
wilayah yang membutuhkan, terutama kawasan yang terdampak karhutla.
Guyuran hujan
diharapkan mampu membasahi lahan, membantu menekan titik panas (hotspot),
sekaligus mengurangi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Di sisi lain,
masyarakat juga masih harus tetap waspada terhadap potensi karhutla. OMC bukan
satu-satunya solusi penanganan, melainkan bagian dari upaya bersama untuk
mengurangi dampak bencana. Dengan prediksi potensi pertumbuhan awan mencapai 90
hingga 98 persen, lima hari pelaksanaan OMC menjadi momentum yang cukup penting
bagi Berau. Tim di darat akan terus memantau kondisi atmosfer. Pesawat
disiagakan. Bahan semai telah tersedia. (sep/FN)